Selasa, 07 Desember 2010

inilah negeriku







baik buruknya suatu bangsa ditentukan oleh akhlaq (budi pekerti) bangsa itu sendiri. Coba kita perhatikan lewat layar kaca, dan media-media cetak, rakyat ini ditunjukkan betapa rusaknya moral anak bangsa ini, seolah-olah tidak ada harapan untuk baik. Melihat kerusakan ini dari kalangan para pejabat, para wakil rakyat, sampai pada rakyat jelata.
Baru saja pada tanggal 17 Agustus 2010 kita memperingati hari kemerdekaan negeri ini yang ke-65. Jadi negeri kita sudah 65 tahun merdeka, tetapi kenyataannya sampai hari ini bangsa kita belum merdeka dari korupsi, belum merdeka dari hutang luar negeri, belum merdeka dari kemiskinan, juga dari ketidak adilan di bidang hukum.
Yang kita lihat, di sana-sini tampak manusia-manusia rakus pada harta dan pada jabatan. Kita saksikan di layar kaca, seorang Gayus pegawai golongan III bisa memiliki rumah mewah dan tabungan uang senilai 25 miliar rupiah, ternyata tidak hanya seorang Gayus. Di balik itu melibatkan beberapa oknum pejabat negara yang bersekongkol dalam kecurangan.
Yang menyedihkan lagi, para penegak hukum, Jendral berbintang pun saling tuding-menuding, melemparkan kesalahan, sampai ada sebutan “perang bintang”, ada juga istilah, “rekening gendut” yang dimiliki oleh para Jendral penegak hukum, “makelar kasus” (markus), “mafia peradilan”, dan macam-macam jenis kejahatan yang lain.
Perampokan pada Bank yang masih segar di ingatan kita, triliunan rupiah dirampok oleh oknum manusia yang tidak bertanggungjawab, belum dapat diusut dengan tuntas (Bank Century), muncul perampokan-perampokan lagi di beberapa tempat, yakni : Bank, Toko Emas dan SPBU di berbagai daerah, dilakukan dengan kekerasan, dengan senjata tajam, bahkan dengan senjata api. Perampok tidak egan-segan menembak mati seorang Brimob yang bertugas dan dua Satpam luka parah akibat tertembak oleh perampok tersebut (di Medan, Sumatera Utara). Mereka melakukan perampokan dengan kekerasan, mungkin karena tidak bisa melakukan perampokan dengan tenang-tenang, dan diam-diam di balik meja, karena tidak mempunyai kedudukan, tetapi hakikatnya adalah sama-sama perampok, hanya beda caranya saja.
Itu semua gambaran manusia-manusia yang rakus pada harta, dengan cara apapun mereka lakukan, asalkan dapat meraih yang diinginkan, tidak takut dosa lagi. Demikian pula manusia-manusia yang rakus dan ambisi pada suatu jabatan/kedudukan. Hampir setiap ada pemilihan kepala daerah (Pilkada) di negeri ini, pasti terjadi kerusuhan, karena yang muncul juga kebanyakan manusia-manusia yang rakus/ambisi pada jabatan tersebut.
Maka terjadilah berbagai macam kecurangan oleh para calon beserta para pendukungnya, dengan melakukan suap-menyuap dan intimidasi. Adalagi lagi istilah “serangan fajar” menjelang detik-detik hari H, sehingga seorang calon pimpinan daerah berani kehilangan milyaran rupiah untuk menang dalam pilkada tersebut.
Akibatnya bagi yang kalah lalu marah dan membuat kekacauan. Bagi yang menang, jangan diharap bisa menjadi pemimpin daerah yang baik, karena modal yang dikeluarkan sudah terlalu banyak, maka dia pasti akan berusaha mengembalikan modalnya, dengan cara apa kalau tidak dengan curang ? Baru-baru ini kita saksikan lewat layar kaca pilkada di Tual (Maluku), terjadi kerusuhan hingga ada seorang wartawan yang dikeroyok masa sampai tewas.
Oleh karena itu saya serukan dengan semangat kemerdekaan, kita bangkit, bebaskan negeri ini dari korupsi, kita bebaskan dari ketidak adilan, kita bebaskan dari kemiskinan, dan kita bebaskan dari semua bentuk kedhaliman, baik itu yang dilakukan oleh bangsa sendiri atau oleh bangsa asing. Kita angkat harga diri bangsa ini, kita prioritaskan perbaikan akhlaq (budi pekerti). Kalau akhlaq (budi pekerti) bangsa itu baik, bangsa ini akan menjadi baik, semua bentuk kejahatan seperti yang disebutkan di muka pasti hilang. Akan tetapi kalau akhlaq (budi pekerti) bangsa ini tidak baik, jangan harapkan bangsa ini akan baik.
Rusaknya bangsa ini tentu tidak kita harapkan. Oleh karena itu keadaan yang begini sudah tidak saatnya lagi kita saling melemparkan kesalahan pada orang lain, tetapi haruslah kita akui, ini adalah kesalahan kita bersama. Maka untuk membangun harus kita bangun bersama, dimulai dari diri kita masing-masing, keluarga kita, kerabat-kerabat dekat kita, meluasnya kepada masyarakat bangsa ini.

kami adalah kelas G, angkatan 2008 UKSW.













Kamis, 02 Desember 2010

Deklamasi dan pementasan karya sastra anak-anak

1. Jelaskan perbedaan antara baca puisi dan deklamasi puisi!
2. Unsure apa sajakah yang perlu diperhatikan dalam deklamasi puisi dan bagaimana perbedaan antara unsur penilaian tersebut?
3. Pilihlah salah satu puisi yang Anda senangi berikut ini untuk dideklmasikan!
Jawab:
1. Perbedaan baca puisi dengan deklamasi puisi, antara lain:
a) baca puisi si pembaca memegang naskah puisi, sedangkan deklamasi tidak memegang naskah puisi sehingga dapat berkonsentrasi dengan baik melakukan gerak jasmaniah secara bervariasi.
b) pada baca puisi, jumlah dan panjang puisi yang dibaca lebih banyak dan panjang daripada deklamasi.
c) pada baca puisi faktor suara atau intonasi banyak berperan, sedankan dalam deklamasi disamping intonasi juga faktor mimic dan getsur atau gerak jasmaniah.
d) baca puisi relative untuk diri sendiri dan orang lain, sedangkan deklamasi semata-mata untuk orang lain.
2. Unsure yang perlu diperhatikan dalam deklamasi yaitu
a) aspek interprestasi, meliputi; visi, artikulasi, dan intonasi.
b) aspek presentasi, meliputi; vocal, gestur atau gerak, tekanan, volume suara, ekspresi mimik.
c) aspek pemahaman dan penghayatan tentang makna, suasana penuturan, sikap pengarang, dan intense pengarang.
d) aspek pemapaparan yang meliputi; kulitas ujaran, tempo, durasi, pelafalan, ekspresi wajah, kelenturan tubuh, dan konversi.
Sasaran penilaian deklamasi di atas adlah untuk orang dewasa. Yang diperlukan adalah aspek penilain untuk keperluan deklamasi anak usia sekoalah dasar. Namun demikan, aspek penilaian diatas tetap dijadikan acuan, hanya saj mengalami penyederhanaan.
Perbedaan penilaian deklamasi puisi untuk keperluan anak usia sekolah dasar adalah terdiri atas lima aspek yaitu
No Aspek penilaian Perbedaan aspek penilaian Contoh
1 Pelafalan  Pelafalan yang dimaksud adalah pelafalan bunyi vocal, konsonan secara cepat.
 Menyangkut dengan masalh kejelasan, yakni pelafalan bunyi vocal, konsonan, dengan volume suara yang jelas dan sempurna.  minum tidak diucapakn minung tetapi minum.

 vocal /u/ dilafalkan dengan suara yang keras atau jelas dengan bentuk mulut yang tidak setengah maju.

2 Intonasi  Intonasi yang dimaksud dalam deklamasi puisi bukan hanya berkaitan dengan aspek panjang, pendeknya suara (tempo), tinggi rendahnya suara (nada) melainkan juga keras lembutnya suara (tekanan) dan perhatian suara sejenak (jeda) pada saat mendeklamasikan larik atau bait puisi.  Puisi yang bersusana marah atau tegas seperti puisi kepahlawanan, intonasinya yaitu nada tinggi, tempo cepat, dan tekan keras
 Puisi yang bersuasan gembira seperti puisi yang mendeskripsikan suasana alam, intonasinya yaitu; nada sedang ( tidak tinggi dan tidak rendah, tempo sedang, dan tekanan sedang)
3 Ekspresi wajah (mimik)  Mimik merupakan perubahan raut wajah sesuai konteks makna dan suasana puisi yang dibaca.
 Penampakan mimik yang tepat merupakan cerminan dari tingkat pemahaman dan penghayatan makna dan suasana penuturan dan sikap pemgarang karya sastra tersebut.  Mimik sedih: wajah tampak suram, pandangan mata kelihatan sayu, bibir mengatup rapat.
 Mimik marah: mata membelalak, tampak galak, dahi berkerut.
 Mimik gembira: pandangan mata bercahaya, muka brbinar-binar, bibir merekah tersenyum.
4 Gesture (kelenturan tubuh)  Kemampuan pembaca menguasai anggota utbuh dalam menggerakkan secara lentur, refleks namun kelihatan wajar dan alamiah sebagai sarana penunjang.
 Gesture atau gerak jasmaniah harus selalu sejalan denganpemaparan intonasi dan perasaan pembaca.  Saat membaca larik puisi ‘laut yang dalam’, tangan menunjuk ke bawah cecara lentur dan refleks.
 Saat membaca larik puisi ‘hutan yang lebat’ tangan bergerak seperti menggambar lingkaran secara lentur dan refleks.
5 Konversasi  Berdeklamasi dihadapan khalayak penonton secara langsung pada hakikatnya sedang berkomunikasi dengan penikmat sendiri.
 Deklamator selayaknya memperhatikan sikap yang dapat menumbuhkan suasana simpatik dan keakraban antara dirinya dengan kalayak penonton.  Penciptaan kontak lewat pandangan mata, pengaturan posisi tubuh, pengaturan gerak-gerik tubuh secara wajar.







3. Saya memilih puisi “ Engkau Yang Berjasa ” dari Harian Pedoman Rakyat, 22 April 2004

Engkau Yang Berjasa
S. Pebriani
Kupuji tugasmu
Kuhormati dirimu
Kukagumi ketabahanmu
Kuhargai pengabdianmu
Hidupmu yang penuh kesederhanaan
Hatimu yang penuh keikhlasan
Kata-katamu yang berisi nasihat dan saran
Bagaikan pelita di dalam kegelapan
Engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa
Engkaulah penunjang kemajuan bangsa
Engkau sumbangkan jiwa dan raga
Untuk tanah air tercinta
Guru….
Betapa mulia tugasmu
Tanpa keikutsertaanmu
Tak mungkin negaraku maju






1. Ada berapa macam teknik yang perlu dikuasai sebelum tampil di atas pentas? Sebutkan dan jelaskan satu demi satu.
2. Jelaskan 4 jenis dasar-dasar penguasaan panggung yang harus dimiliki oleh seorang pemain drama.
3. Pementasan drama didukung oleh berbagai tata artistik : musik, rias wajah, busana, dan cahaya, suara (sound system). Jelaskan tata artistik tersebut menurut pemahaman Anda.
4. Sutradara memiliki peran vital terhadap keberhasilan suatu pementasan drama. Kemukakan peran sutradara tersebut.
5. Bentuklah kelompok di kelasmu lalu Anda pentaskan drama tiga babak secara kelompok berikut ini.
Jawab:
1. 5 (lima), yaitu:
a. Teknik muncul
Cara pemain memunculkan diri pada saat tampil pertama kalinya di atas pentas dalam satu drama babak tau adegan. Pemunculan tersebut memberi kesan pada para penonton sesuai peran yang dimainkan. Jika memainkan seorang guru, maka dia harus memperlihatkan diri sebagaimana layaknya seorang ustadz, berpakaian seragam guru dengan tutur kata yang sopan, dengan pembawaan yang wibawa.
b. Teknik memberi isi
Pengucapan suatu kalimat dengan penekanan makna tertentu melalui tempo, nada, dan dinamik.
c. Teknik pengembangan
Teknik membuat drama bergerak dianamis menuju klimaks atau drama tidak datar. Teknik pengembangan terbagi atas beberapa teknik yang intinya penggunaan pengucapan dan jasmaniah.
• Teknik pengembangan pengucapan yaitu menaikan volume suara atau sebaliknya, menaikkan tinggi nada suara atau sebaliknya, menaikkan kecepatan tempo suara atau sebaliknya.
• Teknik pengembangan jasmaniah yaitu menaikan posisi jasmaniah, dari duduk menjadi berdiri lalu berjongkok dan seterusnya. Memalingkan kepala, tubuh atau seluruh tubuh. Berpindah tempat dari kiri ke kakan, dari belakang ke depan. Ekspresi wajah (mimik) untuk mencerminkan emosi tertentu, mata sendu, suram untuk mengekpresikan kesediahan.
d. Teknik miting
Teknik ini merupakan ketepatan hubungan antara gerakan jasmaniah dengan kata-kata atau kalimat yang diucapkan dalam waktu yang singkat dan sekejap, misalnya;
 bergerak sebelum mengucapkan kata-kata tertentu, seperti mata melotot “pergi dari sini!”
 bergerak sambil mengucapkan sesuatu seperti melotot sambil mengucapkan “pergi dari sini!”.
 Bergerak setelah mengucapkan sesuatu seperti ini “pergi dari sini!”.
e. Teknik penonjolan
Teknik dimana seorang pemain harus memahami pada bagian mana suatu kalimat yang perlu ditonjolkan pada saat diucapkan. Seterusnya pada bagian mana dalam suatu adegan/babakyang perlu ditonjolakan. Hal ini agar penonton dapat menikamati pamentasan dengan penuh keharuan.
2. Dasar –dasar penguasaan panggung yang harus dimiliki oleh seorang pemain drama yaitu :
a. Penguasaan vokal seorang calon pemain drama harus menguasai pelafalan bunyi konsonan dan vokal sesuai artikulasinya secara tepat dan sempurna. Disertai suara yang jelas dan keras. Pengusaan vokal ini biasanya di tempat terbuka untuk mengulang-ulang vokal tertentu sampai sempurna pengucapannya.
b. Pengusaan mimik intonasi dasar.seorang calon pemain harus mengusai mimik dasar seperti mimik sedih, gembira, marah. Mimik marah ditandai dengan mata melotot, muka kemerah-merahan, kening berkerut. Mimik sedih ditandai dengan wajah suram. Pandangan mata sayu, dan mulut tertutup. Sedangkan mimik gembira ditandai muka yang bercahaya, mata bersinar, mulut tersenyum. Disamping itu mimik harus pula menguasai intonasi dasar rendah; tempo lambat, nada rendah, tekanan lembut. Intonsi marah; tempo cepat, nada tinggi, tekanan keras. Intonasi gembira; tempo,nada, tekanan bersifat sedang. Mimik dan intonasi sangat mendukung peran yang dimainkan.
c. Pengusaan kelenturan tubuh. Tubuh seorang pemain drama harus lentur atau elastis sehingga dalam memainkan peran tertentu tidak kelihatan kaku. Untuk mencapai penguasaan tubuh yang elastis, perlu melakukan serangkaian gerakaan seperti berlari cepat dalam jarak dekat, bolak-balik ke utara, selatan, timur, barat, ke segala penjuru. Berlajan dengan menggambarkan perasaan sedih, jalan kepayahan membayangkan berjalan di padang pasir hingga jatuh bergulingan, dst.
d. Penguasaan pemahaman watak peran. Suatu peran menjadi hidup bila aktornya memiliki penguasaan pemahaman dan pengahayatan watak peran yang tepat. Untuk memperoleh watak peran yang tepat, perlu mengadakan analisis peran berdasarkan naskah, seperti; memahami alur cerita, pengenalan, permasalahan, klimaks, dan penyelesaian lalu mencatat peran yang akan dimainkan. Wataj tersebut dibayangkan sedalam-dalamnya sehingga pada saat memainkan peran tersebut, watak pribadi aktor berganti dengan watak peran yang semestinya diperankan.
e. Penguasaan pemanggungan. Sebagai suatu yang harus dimiliki oleh setiap pemain drama, antaralain berkaitan dengan :
 teknik muncul pada saat pertama kali aktor tampil di panggung sesuai peran yang dimainkan pemunculan itu berfungsi memberi kesan simpati bagi penonton.
 Bloking, yakni penguasaan masing-masing aktor tentang daerah gerakannya diatas panggung sehingga panggung kelihatan tak berat sebelah.
 Penguasaan cahaya dan bunyi yakni aktor perlu penguasaan menyesuaikan diri dengan perubahan cahaya dan bunyi (soundsistem) di atas panggung.
3. Menurut saya, yang dimaksud tata artistik:
a. Musik merupakan iringan ilustrasi yang mengatur suatu adegan /babak sehingga peristiwa yang digambarkan semakin hidup dan menarik penonton.
b. Tatarias wajah merupakan salah satu bagian yang membantu mengubah aktor muda memerankan aktor yang kelihatan tua, atau sebaliknya. Aktor yang sehat, kelihatan sakit, dll.
c. Busana merupakan salah satu bagian yang membantu memberikan nilai keindahan, efek visual yang menarik saat pementasan.
d. Cahaya merupakan salah satu bagian yang membantu permaianan dalam menggambarkan peristiwa tertentu, seperti malam, siang, sore, selain itu dapat membantu pada saat menjelang memasuki pembukaan lampu panggung padam saat layar ditutup.
e. Suara (soundsystem). Dengan seni artistik yang baik, suara musik, dialog pemain akan terdengar jernih, jelas, dan menarik.
4. Peran sutradara yaitu:
a. Memilih naskah bermutu
Sutradara memilih naskah bermutu dengan berlandaskan pada:
 nilai filsafat, yakni naskah tersebut mengandung perenungan hakiki.
 segi artistik, yakni naskah tersebut memiliki nilai estetis yang tinggi.
 segi etishumanistik, yakni naskah tersebut memiliki niali moral yang dapat memperkaya rokhani penonton.
 segi komersil yakni naskah memiliki daya minat yang mampu memancing penonton.
b. Menentukan penafsiran naskah
Naskah yang kan dipentaskan harus sesuai keinginan penafsiran sutradara berdasarkan naskah. Semua akting dan dialog merupakan anjuaran atau persetujuan sutradara karena berhasil atau gagalnya banyak ditentukan oleh kreatifitas, etos kerja, dan tanggungjawabnya.
c. Memilih aktor
Berdasarkan hasil penafsiran terhadap naskah, sutradara memilih dan menentukan aktor sesuai postur tubuh, umur, dan jenid kelamin serta keahlian tokoh yang diinginkan dalam naskah.
d. Melatih aktor
Setelah memilih aktor, tugas sutradara adalah menentukan jadwal latihan untuk melatih aktor . Kepiawian aktor dalam memainkan peraan yang diembannya sebagai prapementasan final.
e. Bekerja sama dengan tim
Sutradara juga harus mampu menentukan tim yang dapat membantunya mempersiapkan tata artistik : sinar, rias wajah, busana, musik, panggung. Tim tersebut harus mempunyai jiwa kreatif dan semangat kerja yang tinggi.

Apresiasi Sastra Anak – Anak Secara Reseptif Dan Produktif


  1. Baca puisi berikut lalu kemukakan nilai keindahan (emotif) yang anda rasakan sebagai latihan untuk mempermantap pemahaman Anda tentang penerapan pendekatan emotif

DESAKU
Hagu
Sebuah nama selalu merdu
Di telingaku
Di relung qalbuku
Setiap waktu
Alammu
Nyiurmu
Pantaimu
Memanggil daku selalu
Agar selamanya dekat di sisimu
Di pagi dan di siang
Kuayun kaki menuntut ilimu
Bersama teman-temanku
Lewat jalan berliku
Dinaungi pepohonan rindang
Karena itu aku bertekad
Akan selalu memeliharamu
Akan selalu menjagamu
Akan selalu melindungi
Selama nafas dalam jasad
Jawab:
1. Setelah saya membaca dan mencermati puisi di atas saya menyimpulkan bahwa larik demi larik terasa niali keindahan bentuknya, khususnya dari segi persamaan bunyi /u/ pada akhir larik.
Hagu
Sebuah nama selalu merdu
Di telingaku
Di relung qalbuku
Setiap waktu
Alammu
Nyiurmu
Pantaimu
Memanggil daku selalu
Agar selamanya dekat di sisimu
…………………………………..
Kemudian pada larik
………………………………
Di pagi dan di siang
Kuayun kaki menuntut ilimu
Bersama teman-temanku
Lewat jalan berliku
Dinaungi pepohonan rindang
Karena itu aku bertekad
Akan selalu memeliharamu
Akan selalu menjagamu
Akan selalu melindungi
Selama nafas dalam jasad



Jika dicermati maka ada keindahan irama (nada, tempo, tekanan), keindahan pilihan kata dan keindahan pengungkapan janji bertekad akan selalu memelihara, menjaga, dan melindungi desa si penulis puisi selama nafas dalam jasad.

2. Bacalah puisi berikut ini lalu kemukakan minimal 5 pesan yang terkandung di dalamnya.



Kakekku
Carollah Indah C.
Kakekku
Aku sayang padamu
Aku suka dongengmu
Aku senangi penampilanmu
Aku bangga kepribadianmu
Tapi itu dulu
Kini tak kudengar lagi
Semua dongengmu
Tawa caandamu
Kini yang kulihat
Hanya batu nisan yang kokoh
Sekokoh dirimu
Ya allah, ya robbi
Ampunilah dosa kakekku
Balaslah amal ibadahnya dengan surgamu
Jawab :
2. Setelah saya membaca puisi ini berulang-ulang lalu mencermati bait demi bait, larik demi larik lalu maka, nasihat yang dapat saya peroleh yaitu:
a) Sebagai seorang cucu kita memang harus menyayangi kakek kita bukan membencinya
b) Kita juga harus dapat menyukai penampilan kakek kita,.
c) Siapaun yang punya kakek kita harus bangga karena kepribadiannya, dia menjadi sumber inspirasi dan motivasi.
d) Mengingat kakek kita yang telah tiada seperti dongengnya, canda tawanya, merupakan hal yang baik karena dia merupakan bagian dalan hidup kita.
e) Meski kakek kita telah tiada serta tidak dapat menemani hari-hari kita, tapi kita harus tetap mendoakannya agar diterima semua amal ibadahnya di sisi yang Kuasa.
3. Setelah saya membaca “ Kartini oh kartini”, maka saya menyimpulkan bahwa:
a) Tema cerita “Kartini oh kartini” yaitu bahwa semua anak mempunyai kesempatan yang sama untuk menunjukan bakatnya, meski itu tidak biasa.
b) Latar cerita “ Kartini oh kartini” ini berlangsung didua tempat, yaitu di rumah Ocha dan di supermarket terbesar di Bandung.
c) Plot cerita “Kartini oh kartini”bersifat majudengan rangkaian cerita sebagai berikut.
• Pengenalan masalah : Ocha mengutarakan keinginannya mengikuti Pemilihan Putri Kartini Cilik ’97 di Supermarket terbesar di Bandung. Bukan lantaran takut tidak menang, tetapi lebih karena pembawaan Ocha yang tomboy.
• Permaslahan : Ocha yang jago taekwondo, pemegang ban hitam, sering menang di kejuaraan karate, dan paling suka pake celana dibanding rok, mau ikut pemilihan putri-putrian.
• Klimaks : Ocha diejek selly dan kawan-kawannya, sehingga membuat telinga Ocha merah, kemudian Ocha memperingatkan selly dan kawan-kawannya agar menjaga omongannya.
• Penyelasaian masalah : Mamanya Ocha sangat terharu saat para pemenang diumumkan, Ocha terpilih sebagai the best putri kartini cilik’97. Tetapi sesaat kemudian ada yang berteriak minta tolalong ada kecopetan, secepat kilat, Ocha mengangkat kain tinggi-tinggi, lantas tanpa menghiraukan penampilannya menerjang pencopet tadi. Tapi konde Ocha lepas, diambil mamanya. Ocha tidak merasa malu dan ditertawakan.
Dilihat dari bentuk alurnya, cerita “Kartini oh kartini” menggunakan alur maju karena peristiwa beranjak terus menerus ke depan. Sedangkan dilihat dari segi sifat alurnya menggunakan alur rapat karena seluruh peristiwa yang ditampilkan pelaku berpusat pada satu alur.
d. Penokohan
• Pelaku utama (protagonis) : Ocha, dengan sifat tomboy, cerdas, pemaaf, baik, percaya diri, cuek, dan santai.
• Pelaku antogonis : Selly, Teni, dan kawan – kawan, sifatnya iri, suka mengejek.
• Pelaku tambahan : Mama, dengan sifat baik, bikasana, kagetan.
Sisil, dengan sifat baik hati.
Ibu – Ibu yang tanya, sifatnya ramah.
Wartawan, dengan sifat baik.
e. Gaya penyampain
Gaya pengarang dalam menyajikan cerita menggunakan gaya yang berimbang dan moderat. Pengarang tidak hanya menggambarkan sesuatu yang bijaksana seperti mama, tapi juga keunikan Ocha yang tomboy tapi punya bakat lain yang terpendam yaitu keluwesan dalam berjalan di atas cat walk.

4. Parafrasekan puisi berikut ini menjadi prosa !
MENYESAL
Ali hasyim
Pagiku hilang melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di hari pagi
Kini hidup meracuni hati
Miskin ilmu miskin harta
Ah, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma
Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan dipagi hari
Menuju ke arah padang bakti
Jawab:
MENYESAL
Suatu hari aku tak sengaja memandangi cermin di kamar tidurku. Aku merasa waktu begitu cepat berputar, entahlah yang ada kini aku termangu mengingat-ingat kemana diriku selama ini. Pagi hari yang indah, bersama semangat hidup baru sudah tak aku rasakan. Raut wajahku tak secantik dulu, tak seindah dulu, dan seelok dulu. Pagiku sudah berlalu, usiaku sudah tak semuda dulu. Sekarang yang ada hanya bayang – bayang akhir hayatku karena aku sudah cukup tua menjalani hidup ini.
Kemanakah aku dulu. Aku hanya bermalas-malasan, bersenang-senang, tidak sadar betapa pentingnya merencanakan masa depan dan meraih impian. Kini hidupku pun tak berarti sama sekali. Waktu itu, bapak dan ibuku berharap agar aku dapat kuliah dan mendapat pekerjaan yang layak, meskipun aku ini seorang wanita, tapi kedua orangtuaku berharap lebih kepadaku. Tetapi, aku justru tak menuruti nasihat mereka, aku bangkang mereka. Akhirnya aku menyesal. Ilmu tak dapat, harta pun tak puya. Malang benar nasibku ini.
Semua itu sudah berlalu, kini aku hidup di zaman baru. Zaman yang modern, semua serba hebat. Aku tak perlu takut, aku tak perlu menyesali semua itu. Meyesal di hari tua tidak ada gunanya. Seharusnya itu aku perbaiki saat aku masih muda, seharusnya aku dapat menjadi lebih baik lagi pada waktu itu. Tetapi, sudahlah semua itu hanya menambah luka di hati. Mungkin aku sudah tidak ada artinya untuk menyesal disaat ini. Oleh karena itu, aku berharap pada anak-anak bangsa sekalian, jangan samapai apa yang aku alami, kalian alami. Jangan sampai melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Kalaupun melakukan kesalahan, berushalah menjadi lebih baik. Dnegan hal-hal seperti itu, penyesalan tidak akan terjadi, aturlah hidup kalian menuju hal yang positif dn bermanfaat.
5. Perbaikilah puisi berikut sehingga menjadi puisi yang baik !
POHON KELAPA
Di sebuah padang yang cukup luas
Kau sedang tumbuh dengan begitu suburnya
Daun-daunmu rindang dan kelihatan hijau
Dengan batangmu yang berdiri kokoh dan besar
Serta akar serabutmu tertanam jauh di dalam tanah
Kau sekarang telah berbuah banyak
Ada yang sudah tua
Ada pula yang belum tua
Ada juga yang kecil
Buahmu yang aku buat minyak untuk menggoreng
Buah yang muda kubuat es kelapa sirop untuk diminum
Buahmu yang kecil aku buat menjadi obat penyakit
Kau memang tumbuhan banyak manfaat
Bagi keperluan hidup banyak orang

Jawab:
POHON KELAPA
Di padang yang luas
Kau tumbuh dengan suburnya
Daunmu rindang kehijauan
Elok batangmu kokoh besar
Serabut akarmu tertanam jauh ke tanah
Kini kau berbuah banyak
Ada yang tua
Ada pula yang muda
Ada juga yang kecil
Buah tuamu jadi miyak goreng
Buah mudamu jadi pelepas dahaga
Buah kecilmu jadi penolong
Kau memang luar biasa
Bagi semua orang

Senin, 15 November 2010

SASTRA ANAK-ANAK

1. Menurut Anda, apakah yang dimaksud dengan apresiasi sastra anak-anak?

Jawab:

a. Penghargaan (terhadap karya sastra anak) yang didasarkan pada pemahaman

b. Penghargaan atas karya sastra anak sebagai hasil pengenalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penikmatan yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra anak.

c. Kegiatan menggauli cipta sastra anak dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian penghargaan, kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra anak.

2. Bentuk sastra anak yang menekankan penampakan karakter melalui dialog adalah sastra anak yang berbentuk prosa? Setujukah Anda dengan pernyataan tersebut? Jika tidak bagaimana pendapat Anda?

Jawab :

Setuju, Karena dengan berbentuk prosa anak dapat berkisah apa saja, baik kehidupan manusia, binatang, tumbuhan, maupun kehidupan yang lain termasuk makhluk dari dunia lain. Tokoh anak harus menjadi pusat perhatian dan pengisahan. Dengan demikian, ketika membaca cerita prosa itu anak dengan mudah memahami, mengidentifikasikan, dan mengembangkan fantasinya lewat bacaan. Prosa anak pun dapat berupa prosa tradisional seperti cerita dongeng dan prosa modern seperti novelet anak.

3. Sastra anak terdiri atas puisi, prosa, dan drama. Khusus puisi dan prosa terbagi lagi atas beberapa ragam. Jelaskan perbedaan jenis sastra anak tersebut!

Jawab :

A. Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan lirik dan bait. Puisi sebagai karya sastra seni terdiri atas berbagai ragam. Menurut waluyo mengklasifikasi puisi berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gaggasan yang hendak disampaikan terdiri atas : puisi naratif, puisi lirik, dan puisi deskriptif.

  1. Puisi naratif adalah puisi isinya berupa cerita yang di dalamnya tergambar ada pelaku yang berkisah.
  2. Puisi lirik adalah puisi yang mengungkapkan gagasan pribadinya dengan cara tidak bercerita, dapat berupa pengungkapan terhadap pujaan terhadap seseorang.
  3. Puisi deskriptif adalah puisi yang mengungkapkan gagasan dengan cara melukiskan sesuatu untuk mengungkapkan kesan, peristiwa, pengalaman menarik yang pernah dialaminya.

Puisi anak – anak memiliki ciri-ciri:

  1. Bahasanya mudah dipahami anak
  2. Pesan dapat dimengerti
  3. Memiliki irama dan keindahan
  4. Isinya sesuai dengan tingkat perkembangan anak

B. Prosa adalah bentuk karangan sastra dengan bahasa biasa bukan puisi, terdiri atas kalimat – kalimat yang jelas runtutan pemikirannya, biasanya ditulis dalam alenia – alenia. Ragam prosa adalah prosa fiksi.

Prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya, sehingga menjalin suatu cerita. Prosa fiksi terbagi menjadi tiga,

  1. Prosa fiksi sains adalah berupa ilmu pengetahaun atau bersifat faktual disusun dalam bentuk cerita fiksi dengan cara menentukan pelaku, latar, dan alur. Tujuannya untuk menarik minat dan perhatian siswa sehingga mereka merasa tidak sulit memahami isi dan pesan yang disampaikan pengarang.
  2. Prosa fiksi realistis adalah cerita yang bertujuan menyampaikan sesuatu yang mengandung nilai- nilai kehidupan yang logis, berkaitan dengan etika, moral, religius, dan nilai lain-lainnya yang diungkap melalui prosedur “bercerita” dengan tema, latar, alur, penokahan, sudut pandang, dan aamanat yang ingin disampaikan.peristiwa yang disampaikan bersifat fiktif (seolah-olah pernah terjadi) dikatakan realistik karena isi atau tema cerita tersebut diangkat dari kehidupan sehari-hari.
  3. Prosa fiksi imajinatif adalah prosa yang hampir sama dengan prosa fiktif realistik tetapi peristiiwanya merupakan imajinasi pengarang ynag tidak real.

Prosa anak-anak memiliki ciri-ciri

  1. Latarnya dikenal anak
  2. Alurnya maju dan tunggal
  3. Penokohan dari kalangan anak
  4. Temanya tentang kehidupan sehari-hari, petualangan, olahraga, dan keluarga.

4. Kalau Anda mengajarkan cerita di Sekolah Dasar, cerita yang bagaimana ciri-cirinya yang Anda berikan kepada Anak untuk dipelajari atau diapresiasi? Jelaskan!

Jawab :

Jika kami mengajarkan cerita di Sekolah Dasar, pastinya kami akan memberikan cerita yang menarik, menyenangkan, lekat dengan kehidupan sehari-hari, alur maju, metode penyampaiannya induktif ( dari khusus ke umum).

Ciri-cirinya antaralain:

1. Bahasanya mudah dimengerti anak serta sesuai dengan perkembangan anak

2. Intonasi, irama, harus sesuai dengan kalimat dalam cerita, dengan contoh:

a. Oh !, dengan nada menghentak dan kaget.

b. “Dika, kamu sudah makan?” apabila ada kalimat yang bertanya dengan intonasinya naik turun dengan iramanya halus.

c. “ Keluar dari rumahku ! dengan nada tinggi, tujuannya untuk memerintah.

3. Dengan ekspresi sesuai dengan kalimat dalam cerita.

4. Hendaknya jangan diberikan cerita yang bersendikan politik tetapi mengutamakan pendidikan moral dan pembentukan watak karena kita sebagai guru sekolah Dasar harus membekali anak dengan suatu hal yang baik, sehingga watak yang terbenttuk dari kecil pun juga baik.

5. Isi cerita harus sesuai dengan umur anak.

6. Pesan dapat tersampaikan dengan baik.

5. Dapatkah Anda menjelaskan ciri-ciri drama yang dapat dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran drama di SD?

Jawaban :

Drama adalah karangan prosa atau puisi yang berupa dialog dan keterangan laku untuk dipertunjukkan dipentas. Ciri-ciri dama yang dapat dijadikan bahan ajar adalah :

a. Bahasanya dapat dipahami anak

b. Pesan dapat dimengerti

c. Memiliki iama dan keindahan

d. Isinya sesuai dengan tingkat perkembangan anak

e. Latar atau alurnya maju dan tunggal

f. Penokohan dari kalangan anak

g. Temanya tentang kehidupan sehari-hari, petualangan, olahraga, dan kehidupan sehari-hari

h. Dialognya yang relatif sederhana

i. Adegan tidak terlalu panjang.

6. Kedua puisi berikut, manakah menurut Anda yang memenuhi ciri-ciri sastra anak-anak atau cocok dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran puisi di SD? Tentukan dan Jelaskan !

Jawaban :

Menurut pendapat kelompok kami, puisi yang cocok dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran untuk anak SD adalah puisi yang berjudul ”LAYANG-LAYANG KESAYANGANKU”. Kami memberikan kesimpulan tersebut berdasarkan ciri-ciri puisi anak, yaitu :

a. isi sajak harus merupakan pengalaman dari dunia anak sesuai umur dan taraf perkembangan jiwa anak, dalam puisi yang berjudul “LAYANG-LAYANG MILIKKU” tidak sesuai untuk anak SD karena makna dari puisi tersebut tidak sesuai dengan taraf perkembangan jiwa anak, karena berisi tentang percintaan. Sedangkan puisi kedua cocok untuk taraf perkembangan jiwa anak SD. Jadi puisi yang pertama memiliki pesan yang dapat dipahami atau dimengerti oleh siswa SD.

b. sajak itu memiliki daya tarik terhadap anak, karena dalam puisi yang pertama banyak menggunakan kata kiasan sehingga tidak menarik untuk anak SD. Sedangkan puisi yang kedua kalimatnya sangat jelas dan kongkret, sehinnga mudah dipahami oleh anak SD, dan anak SD yang membaca juga akan tertarik.

c. sajak itu harus memiliki keindahan lahiriah bahasa, misalnya irama yang hidup, tekanan kata yang nyata, permainan bunyi, dan lain-lain. Dalam puisi yang pertama, banyak sekali menggunakan tekanan kata yang kurang nyata (misalnya, Di kota ini aku sendiri dengan pijar nasib).

d. perbendaharaan kata yang sesuai dengan dunia anak. Dalam puisi yang pertama banyak menggunakan kata-kata yang kurang dipahami oleh siswa karena banyak menggunakan kata kiasan sehingga siswa SD yang membacanya akan merasa bingung.

LAYANG-LAYANG MILIKKU S. Sukirnanto

Layang-layang milikku, kumanjakan kau

Membumbung di langit biru

Di alam raya bersama burung-burung yang bebas

Lihatlah dari sana, negeri-negeri yang angkuh?

Satu pesan yang kusampaikan dari bumi ini

Janganlah meninggalkan daku, kemudian kau pergi

Sebab jarak antara kita akan semakin jauh

Di kota ini aku sendiri dengan pijar nasib

Layang-layang milikkku, kumanjakan kau

Membumbung di langit biru

Sampaikan salam: hidup teguh di sini

Nyanyian bumi dalam ujud puisi

LAYANG-LAYANG KESAYANGANKU Haksan

Layang-layang kesayanganku

Bagian atasnya hijau

Bagian tengahnya kuning

Bagian bawahnya putih

Ekornya berwarna merah

Angkah indah kupandang

Pada hari Sabtu

Sesudah salat ashar

Saya dan kawan-kawanku

Pergi bermain laying-layang

Di tanah lapang

Jumat, 22 Oktober 2010

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Bagi negara yang tengah bertransisi menuju demokrasi, seperti Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan yang mampu memperkuat barisan masyarakat sipil yang beradab dan demokratis amat penting dilakukan.
Pendidikan kewarganegaraan bukanlah barang baru dalam sejarah pendidikan nasional. Di era Soekarno, misalnya, pendidikan kewarganegaraan dikenal dengan pendidikan civic. Demikian pula masa Presiden Soeharto, pendidikan kewarganegaraan sangat intensif dilakukan dengan bermacam nama dan tingkatan.
Sayang, pelaksanaan pendidikan kewarganegaraan semasa Orde Baru (Orba), seperti Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), ternyata menyimpang dari impian luhur kemanusiaan yang terkandung dalam dasar negara Pancasila.
Budaya dan praktik penyalahgunaan kekuasaan serta meningkatnya korupsi di kalangan elite politik dan pelaku bisnis sejak masa Orba hingga kini bisa menjadi fakta nyata gagalnya pendidikan kewarganegaraan masa lalu.
Mencermati hal penting itu, upaya reformasi atas Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) nasional sudah saatnya dilakukan. Beberapa unsur penting dalam pembelajaran PPKn perlu segera dilakukan perubahan secara mendasar: konsep, orientasi, materi, metode dan evaluasi pembelajarannya.
Secara konseptual, pendidikan kewarganegaraan adalah suatu bentuk pendidikan yang memuat unsur-unsur pendidikan demokrasi yang berlaku universal, di mana prinsip umum demokrasi yang mengandung pengertian mekanisme sosial politik yang dilakukan melalui prinsip dari, oleh, dan untuk warga negara menjadi fondasi dan tujuannya.
Mengaca pada realitas demokrasi di Indonesia, pendidikan demokrasi yang disubordinasikan dalam pendidikan kewarganegaraan dengan konsep itu sudah saatnya dilakukan. Tujuan pendidikan ini adalah untuk membangun kesadaran peserta didik akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan mampu menggunakannya secara demokratis dan beradab.
Dalam konteks pendidikan demokrasi, pandangan tentang demokrasi dari filsuf pendidikan Amerika Serikat, John Dewey, dapat dijadikan rujukan yang relevan. Menurut dia, demokrasi bukan sekadar bentuk suatu pemerintahan, tetapi lebih sebagai pola hidup bersama (associated living) dan hubungan dari pengalaman berkomunikasi.
Oleh karena itu, kata penulis buku Democracy and Education itu, kian banyak orang terlibat dalam kepentingan-kepentingan orang lain yang berbeda, mereka akan kian banyak merujuk segala perbuatannya kepada kepentingan orang banyak, kian majemuk, dan, masyarakat itu akan semakin demokratis (Revitch, 2001). Idenya tentang demokrasi yang lebih mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan kelompok tampak sesuai realitas kultural dan sosial Indonesia yang majemuk.
Orientasi lama pengajaran PPKn yang lebih menekankan kepatuhan peserta didik kepada negara sudah saatnya diubah ke arah pengajaran yang berorientasi pada penyiapan peserta didik menjadi warga negara yang kritis, aktif, toleran, dan mandiri.
Jika orientasi pendidikan PPKn masa lalu telah terbukti gagal melahirkan manusia Indonesia yang mandiri dan kreatif, karena terlalu kuatnya muatan “pengarahan” negara atas warga negara, pendidikan kewarganegaraan mendatang seharusnya diarahkan untuk membangun daya kreativitas dan inovasi peserta didik melalui pola-pola pendidikan yang demokratis dan partisipatif.
Absennya dua faktor ini dalam sistem pendidikan masa lalu ternyata telah berakibat fatal manakala negara sendiri tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan sosial.
Kenyataan ini tidak bisa dipisahkan dari peran Pendidikan Kewarganegaraan di masa lalu yang kurang memberi ruang bagi pengembangan sikap mandiri dan kreativitas di kalangan peserta didik.
Maraknya praktek KKN yang semakin transparan , kerusuhan, amuk massa, tawuran antar desa juga antar mahasiswa, tindakan-tindakan anarkhis dan meningkatnya kecenderungan penggunaan cara-cara tidak demokratis, menunjukan bahwa pembelajaran PKn kurang berhasil. Hal ini senada dengan pendapat International Commision of Jurrits (2003:1).bahwa kita kurang berhasil menyelenggarakan PKn seperti diamanatkan dalam Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional Isi maupun cara penyampaiannya sangat tidak memuaskan. Isinya hanya mencatat hal-hal yang baik-baik, cara penyampaiannya pun searah, bahkan indoktrinatif. Padahal salah satu syarat terselenggaranya pemerintahan yang demokratis ialah adanya PKn (civics).














BAB II
Pembelajaran PKn Mengalami Kegagalan dalam Implementasinya
Pakar ilmu perundang-undangan Universitas Andalas (Unand), Padang, Prof. Dr. Yuliandri, mengatakan, pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dinilai 'gagal' sebagai media pemahaman nilai-nilai Pancasila."Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan hanya sekedar menyampaikan sejumlah pengetahuan (ranah kognitif) sedangkan ranah afektif dan psikomotorik masih kurang diperhatikan.
Menciptakan situasi kelas yang inspiratif, interaktif, dan menyenangkan dalam pembelajaran PKn, tidaklah mudah. Sebagian besar siswa masih menganggap PKn sebagai pelajaran yang mementingkan hafalan. Pengetahuan yang diberikan guru dianggap kurang memberdayakan potensi kognitif,afektif dan psikomotorik siswa secara optimal. Selain itu adanya alasan lain, misalnya:
1. Guru dipandang sebagai orang yang sangat berkuasa
Peranan guru sangat dominan. Dia menentukan segala hal yang dianggap tepat untuk disajikan kepada para siswanya. Guru dipandang sebagai orang yang serba mengetahui, berarti guru adalah yang paling pandai. Dia mempersiapkan tugas-tugas, memberikan latihan-latihan dan menentukan peraturan dan kemajuan tiap siswa
2. Siswa selalu bersikap dan bertindak pasif
Siswa dianggap sebagai tong kosong, belum mengetahui apa-apa. Dia hanya menerima apa yang diberikan oleh gurunya. Siswa bersikap sebagai pendengar, pengikut, pelaksana tugas. kebutuhan, minat, tujuan, abilitas dan lain-lain yan dimiliki oleh siswa diabaikan dan tidak mendapat perhatian guru.


3. Kegiatan pembelajaran hanya berlangsung dalam kelas
Pembelajaran dilaksanakan dalam batas-batas ruangan kelas saja, sedangkan pembelajaran di luar kelas tak pernah dilakukan. Tembok sekolah menjadi benteng yang kuat yang membatasi hubungan dengan kehidupan masyarakat. Para siswa duduk pada bangku-bangku yang berdiri kokoh, tak bisa dipindah-pindahkan. Mereka duduk dengan rapi dan kaku secara rutin setiap hari. Ruangan kelas dipandang sebagai ruang penyelamat, ruang memberi kehidupan. Belajar dalam batas-batas ruangan itu adalah belajar yang paling baik
Untuk mengubah anggapan tersebut, guru dituntut memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk mencari strategi pembelajaran kreatif yang melibatkan siswa secara aktif dengan mengutamakan penguasaan kompetensi. Rumusannya mengembangkan karakter yang cerdas dan budaya nalar terhadap konsep,nilai serta perilaku demokratis warga Negara.
Sebagai proses pencerdasan,pendekatan pembelajaran PKn harus memungkinkan suasana kelas menjadi lebih inspiratif dengan pelatihan penggunaan logika serta penalaran.Guru bisa memberikan pembelajaran yang digali dari fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat sebagai pengalaman langsung.
Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan cenderung menjenuhkan siswa. Hal ini diperparah dengan adanya anomali antara nilai positif di kelas tidak sesuai dengan apa yang terjadi dalam realitas sehari-hari. "Sungguh dua realitas yang sangat kontras dan kontradiktif," kata dia. Oleh karena itu, pembelajaran pendidikan kewarganegaraan harus dikemas sedemikian rupa, sehingga mampu menjadi alat pemahaman nilai-nilai Pancasila bagi generasi muda.
Di samping itu, kepemimpinan nasional harus membawa Pancasila ke dalam wacana dan kesadaran publik dan harus bicara tentang pentingnya Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan bangsa. Sudah waktunya kepemimpinan nasional dan pejabat-pejabat publik lainnya, memberikan perhatian khusus kepada ideologi pemersatu ini, jika mereka betul-betul peduli pada identitas nasional dan integrasi negara bangsa Indonesia, melalui prinsip-prinsip dasar yang dikandung Pancasila sebagai 'vision of state', maka dalam melakukan proses itu menuntut peran optimal dari negara dan pemerintah serta dukungan sepenuhnya dari 'civil society'. Sehingga pada akhirnya, melalui bingkai hukum dan sistem perundang-undangan yang ada, bangunan negara dan bangsa yang didirikan para pendiri negara akan dapat berdiri kokoh.
Faktor akhlaklah yang menjadi penyebab utama keterpurukan negara-negara terbelakang. Hal ini menandaskan, dalam kehidupan apapun segala persoalan harus menempatkan pembenahan perilaku menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil yang dicita-citakan Pancasila, dibutuhkan pemahaman bersama (mutual understanding) dan tingkat pendidikan yang lebih baik (well educated). Hal ini agar kesan yang muncul dari Pancasila sebagai ideologi tidak terlalu apologetik.
Terjadinya kegagalan pembelajaran PKn dalam implementasinya, kiranya sudah sangat mendesak diadakannya perubahan paradigma dalam PKn yang dikembangkan pada lembaga pendidikan. Di samping perubahan paradigma dalam bidang materi, tidak kalah pentingnya perubahan dalam bidang paradigma metodologis. Apabila perubahan pada paradigma yang pertama diarahkan secara sistematis pada pengembangan wacana demokrasi yang berkeadaban dalam dinamika perubahan sosial yang berkembang, maka perubahan paradigma metodologis diarahkan untuk mengembangkan daya nalar peserta didik dalam kelas-kelas yang partisipatif, sehingga peserta didik benar-benar dapat “mengalami demokrasi” dalam proses pembelajaran PKn.
Hambatan dan permasalahan lain menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (2002:3) adalah adanya tangggapan kurang simpatik masyarakat kampus (civitas akademika) terutama mahasiswa terhadap matakuliah Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai akibat proses pendidikan tiga dasawarsa terakhir yang bersifat indoktrinasi sehingga isi, makna, dan manfaat yang diperoleh dari mempelajari ketiga matakuliah tersebut tidak terasa.







BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan hanya sekedar menyampaikan sejumlah pengetahuan (ranah kognitif) sedangkan ranah afektif dan psikomotorik masih kurang diperhatikan. Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan cenderung menjenuhkan siswa. Sebagian besar siswa masih menganggap PKn sebagai pelajaran yang mementingkan hafalan. Selain itu disebabkan alasan – alasaan, antara lain Guru dipandang sebagai orang yang sangat berkuasa, Siswa selalu bersikap dan bertindak pasif, Kegiatan pembelajaran hanya berlangsung dalam kelas.
Sebagai proses pencerdasan,pendekatan pembelajaran PKn harus memungkinkan suasana kelas menjadi lebih inspiratif dengan pelatihan penggunaan logika serta penalaran.Guru bisa memberikan pembelajaran yang digali dari fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat sebagai pengalaman langsung
Guru dituntut memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk mencari strategi pembelajaran kreatif yang melibatkan siswa secara aktif dengan mengutamakan penguasaan kompetensi. Rumusannya mengembangkan karakter yang cerdas dan budaya nalar terhadap konsep,nilai serta perilaku demokratis warga Negara.
Terjadinya kegagalan pembelajaran PKn dalam implementasinya, kiranya sudah sangat mendesak diadakannya perubahan paradigma dalam PKn yang dikembangkan pada lembaga pendidikan. Di samping perubahan paradigma dalam bidang materi, tidak kalah pentingnya perubahan dalam bidang paradigma metodologis. Sehingga peserta didik benar-benar dapat “mengalami demokrasi” dalam proses pembelajaran PKn.